Generasi Masa Depan Lebih Menyukai Trend Back to City

Generasi Masa Depan Lebih Menyukai Trend Back to City – Generasi yang lebih muda saat ini, semakin malas membayangkan hidup di wilayah pinggiran. Enggan membayangkan bagaimana capeknya di jalan. Mereka tidak mau membuang waktu enam jam sehari, hanya untuk menunggu mobil di depannya jalan duluan.

Lagipula permukiman menengah ke bawah di pinggiran kota identik dengan citra negatif. Misalnya, lingkungan yang kumuh dan rawan demam berdarah. Kawasan yang jadi langganan maling. Mulai maling jemuran sampai sindikat pencuri mobil dan perampok. Kawasan permukiman di pinggiran kota juga identik dengan kultur yang tak sehat. Ibu-ibu yang suka ngerumpi. Menjadi sasaran salesman door to door. Dan seterusnya.

Mengapa muncul trend kembali berdomisili di kota? Inilah alasan-alasan yang paling masuk akal:

  • lingkungan yang lebih baik, baik secara kesehatan, sosial, kultur, maupun gaya hidup;
  • dekat dengan pusat aktivitas dan fasilitas layanan umum;
  • waktu perjalanan ke kantor dan pusat-pusat aktivitas menjadi jauh lebih singkat (artinya: stres berkurang, penat hilang, ada kemungkinan umur bertambah panjang);
  • kalau waktu perjalanan bisa dihemat, berarti waktu untuk hal-hal lain akan bertambah (misalnya untuk memberi perhatian lebih banyak pada keluarga, mengerjakan hobi, bersosialisasi, dll.);
  • penghematan BBM (ini barang yang kian langka dan mahal);
  • mengurangi emisi karbon (bukan hanya perusahaan-perusahaan gede saja yang musti peduli lingkungan, kita sebagai individu juga harus peduli terhadap kelangkaan sumber-sumber energi fosil dan efek pemanasan global);
  • mengurangi kemacetan lalu lintas di jam-jam sibuk, termasuk di jalan tol (berarti berbuat baik untuk orang lain kan?);
  • anyway, tinggal di pusat kota kan lebih prestise daripada di pinggiran

Apakah Apartemen Cocok Bagi Anda?

Tidak semua orang cocok membeli apartemen. Ketika seseorang membeli apartemen, ia memiliki sekurangnya satu dari dua tujuan. Pertama, untuk ditempati sendiri. Kedua, sebagai investasi.

Pasukan Synergy

Bila tujuannya untuk ditempati sendiri maka pembeli apartemen adalah orang yang

  • menyukai kepraktisan;
  • sanggup beradaptasi dengan gaya hidup metropolis yang individualistik;
  • dapat hidup mandiri (tidak tergantung pada kerabat tetangga, atau lingkungan sekompleks)
  • tidak begitu cocok dengan kehidupan sosial bila tinggal di kampung atau perumahan (misalnya kewajiban ronda malam, arisan, dll).

Kalau tujuannya adalah untuk investasi, maka pembeli apartemen adalah orang yang:

  • konservatif, menyukai instrumen investasi yang aman atau berisiko kecil;
  • senang memperoleh pendapatan sewa dari unit apartemennya;
  • tidak pusing dengan kerewelan penyewa, atau tetek-bengek menyangkut pemeliharaan unit apartemen;
  • suka mengikuti perkembangan harga properti maupun perkembangan suatu wilayah/kawasan;
  • memiliki komunitas orang-orang yang sama-sama suka berinvestasi di properti.

Adakah yang Berharga Murah?

Di kawasan strategis yang dekat dengan lokasi perkantoran berbagai apartemen dan kondominium dibangun. Awalnya, unit-unit apartemen dan kondo mewah itu memang ditujukan bagi kaum the haves. Siapa sih yang kuat membeli apartemen seharga Rp 3 miliar, kalau dia bukan dari golongan supertajir. Kalau diangsur 10 tahun saja jatuhnya Rp 30 jutaan sebulan.

Jelas apartemen sekelas itu hanya cocok bagi mereka yang gajinya ratusan juta rupiah per bulan. Mereka adalah ekspatriat atau direktur bank atau perusahaan besar. Atau, kaum investor yang kerjaannya setiap hari belanja investasi. Jelas apartemen mewah bukan kelasnya pegawai yang jabatannya cuma supervisor.

Karena itu, kelas menengah kerah biru (blue collar) merasa apartemen bukan buat mereka. Mereka masih puas dengan pilihan hidup di pinggiran  walau harus capek setengah mati di jalan. Lebih baik capek tapi ngirit daripada nggak capek tapi boros.

Tapi kini, sudah banyak apartemen “murah” yang menyasar segmen menengah bawah. Misalnya, apartemen berukuran 50-an meter di pusat kota, harganya sekitar Rp 500 jutaan. Yang paling murah Rp 300 jutaan. Tentu, rentang harga ini jauh lebih murah dibandingkan yang seharga miliaran rupiah. Tapi bagi orang-orang karyawan biasa, harganya tetap kelewat mahal. Properti seharga Rp 500 jutaan berarti beban angsuran Rp 5 jutaan sebulan. Gajinya dan gaji istrinya bisa habis hanya untuk bayar angsuran! Padahal hidup di apartemen tentu ada biaya tambahan seperti service charge.

Demikian info tentang Generasi Masa Depan Lebih Menyukai Trend Back to City semoga bermanfaat.

Pasukan Synergy

sumber: Beli Apartemen Pakai Duit Orang Lain, William Tanuwidjaja

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Komunitas SB1M
loading...
Hosting Berkualitas
Share